|
Kontan, Senin 19 Mei 2008
Jakarta. Beda Nasib dengan asuransi jiwa yang preminya terus melangit, perolehan premi dari asuransi umum malah menukik. Data sementara yang dihimpun Departemen Keuangan menyebutkan, perolehan premi bruto asuransi umum tahun 2007 turun sebesar Rp 3,8 triliun atau 19,5% dari perolehan premi tahun sebelumnya.
Tahun lalu, perusahaan asuransi umum cuma mendulang premi Rp 15,72 triliun. Padahal, tahun sebelumnya mencapai Rp 19,52 triliun.
Data sementara ini terkumpul dari perolehan premi 85 perusahaan asuransi umum, terdiri dari 66 perusahaan asuransi umum swasta dan 19 perusahaan asuransi umum patungan (joint venture).
Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Kornelius Simanjuntak mengatakan, penurunan ini sebagai buntut perang tarif premi. ¿Bukan hanya yang terjadi di asuransi kendaraan bermotor, tapi juga perang tarif di asuransi properti dan kebakaran,¿ ujar Kornelius kepada KONTAN, akhir pekan lalu.
Menurut Kornelius, perang tarif premi di asuransi kendaraan bermotor memang sudah mulai reda sejak keluarnya peraturan dari pemerintah, yaitu Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 74. Tapi perang tarif di asuransi properti, seperti kebakaran, masih terjadi.
Tahun ini masih seret
Malah, kata Kornelius, tarif premi yang ditawarkan sudah nyaris gratis. ¿Ini menjadi masalah, karena asuransi properti memberikan kontribusi terbesar terhadap perolehan premi asuransi umum,¿ tandasnya.
Selain masalah perang tarif, lanjut Kornelius, perusahaan asuransi umum memang lebih berhati-hati dalam menawarkan asuransi akibat dari bencana alam yang sering terjadi. ¿Awal tahun lalu, misalnya, perusahaan asuransi umum harus mengeluarkan klaim banjir yang cukup besar,¿ ujarnya.
Kepala Biro Perasuransian Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Departemen Keuangan Isa Rachmatawarta mengakui, kinerja asuransi umum tahun lalu memang tidak sebaik asuransi jiwa.
Isa menduga, perolehan premi asuransi umum tahun ini kemungkinan juga masih seret. Terlebih ada rencana kenaikan bahan bakar minyak (BBM), sehingga makin menyulitkan perusahaan asuransi umum mendulang premi lebih banyak.
Kornelius menambahi, susah bagi perusahaan asuransi umum untuk memprediksi pertumbuhan preminya tahun ini. ¿Kita lihat dulu dampak dari kenaikan BBM ini terhadap perekonomian sampai kuartal ketiga tahun ini,¿ tuturnya.
Data Depkeu juga menyebutkan, perusahaan asuransi swasta nasional masih menjadi market leader bisnis asuransi umum. Dari 66 perusahaan asuransi umum yang sudah melaporkan kinerja keuangannya, total perolehan premi bruto yang terkumpul sebesar Rp 11,98 triliun. PT Asuransi Sinar Mas menjadi jawara dengan meraup premi Rp 2,2 triliun, diikuti dengan PT Tugu Pratama Indonesia Rp 1,3 triliun, dan PT Asuransi Astra Buana Rp 1,2 triliun.
Sedangkan dari 19 perusahaan asuransi patungan terkumpul premi bruto sebesar Rp 3,74 triliun. Pengumpul premi bruto terbanyak adalah PT Asuransi Mitsui Sumimoto Indonesia sebanyak Rp 624,6 miliar.
|