September 08, 2026

Emotional Spending: Saat Belanja Menjadi Bentuk Pelarian Emosi

Belanja setelah hari yang melelahkan memang bisa terasa menyenangkan...

Pernah merasa ingin berbelanja setelah menjalani hari yang melelahkan, sedang stres, atau sekadar ingin memperbaiki suasana hati? Sesekali membeli sesuatu untuk menyenangkan diri tentu bukan masalah. Namun, ketika belanja mulai menjadi respons yang berulang terhadap stres, kecewa, bosan, atau emosi negatif lainnya, kebiasaan tersebut dapat mengarah pada emotional spending.


Dalam perspektif ekonomi Islam, keputusan konsumsi tidak hanya mempertimbangkan kepuasan, tetapi juga nilai dan tanggung jawab dalam menggunakan harta. Konsep Wasathiyah, atau moderasi, menjadi salah satu prinsip yang dibahas dalam kajian perilaku keuangan Muslim. Penelitian Ramlee, Syed Mohd Zain, dan Wan Husain menunjukkan bahwa moderasi dalam keputusan finansial berkaitan dengan kesadaran mengelola kredit dan kecenderungan untuk berbelanja sesuai kemampuan.


Ketika Emotional Spending Mulai Bertentangan dengan Prinsip Moderasi

Dalam kajian ekonomi Islam, konsumsi memiliki batas etis. Penelitian Budiman mengenai israf dan tabdzir menjelaskan bahwa israf berkaitan dengan konsumsi yang melampaui batas kewajaran, sedangkan tabdzir merujuk pada penggunaan sumber daya secara boros dan tidak produktif. Keduanya dapat menjadi batas untuk menjaga konsumsi tetap berada dalam kerangka Wasathiyah.


Artinya, membeli sesuatu karena ingin menyenangkan diri sendiri tidak otomatis berarti salah. Yang perlu diperhatikan adalah apakah keputusan tersebut masih sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan tujuan keuangan, atau justru dilakukan berulang kali sebagai pelarian emosi hingga menyebabkan pemborosan.

1. Beri jeda sebelum membeli

 Saat muncul keinginan belanja karena sedang kesal atau stres, jangan langsung checkout. Beri waktu untuk memastikan apakah barang tersebut memang dibutuhkan atau hanya memberikan kepuasan sesaat.

2. Tanyakan tiga hal sebelum transaksi

 Apakah saya membutuhkan barang ini? Apakah saya mampu membelinya? Apakah pembelian ini sesuai dengan prioritas keuangan saya?

3. Buat anggaran khusus untuk kesenangan

 Menjaga keuangan bukan berarti tidak boleh menikmati hasil kerja. Sisihkan nominal tertentu untuk hiburan atau self reward, sehingga pengeluaran tetap memiliki batas yang jelas.

4. Cari cara lain untuk meredakan emosi

 Ketika sedang stres, coba lakukan aktivitas yang tidak selalu melibatkan pengeluaran, seperti berjalan kaki, beristirahat, membaca, melakukan hobi, atau berbicara dengan orang terdekat.

5. Evaluasi kebiasaan belanja secara berkala

 Perhatikan kapan biasanya keinginan belanja muncul. Jika ternyata sering terjadi saat sedang stres, bosan, atau kecewa, masalah yang perlu diselesaikan mungkin bukan kebutuhan untuk membeli sesuatu, melainkan emosi yang sedang dirasakan.

Belanja Secukupnya, Mengelola Harta dengan Bijak

Dalam perspektif syariah, mengelola keuangan bukan berarti menghindari seluruh bentuk konsumsi atau kesenangan. Fokusnya adalah menjaga agar penggunaan harta tetap proporsional dan tidak jatuh pada perilaku berlebihan atau pemborosan. Kajian tentang Wasathiyah dan perilaku konsumsi Muslim menunjukkan pentingnya moderasi sebagai bagian dari keputusan finansial yang bertanggung jawab.


Sumber
Asian Academy of Management Journal, Indonesian Journal of Applied Accounting and Finance