October 08, 2025

Hari Kathina: Tradisi, Ritual, dan Nilai Cinta Kasih dalam Buddhisme

Kathina (Pali: Kaṭhina) adalah salah satu hari raya penting dalam Buddhisme, yang dirayakan pada akhir masa Vassa atau retret musim hujan (biasanya pada Oktober). Perayaan ini menandai berakhirnya Vassa, masa tiga bulan di mana para bhikkhu dan bhikkhuni berdiam di wihara untuk berlatih meditasi, mengajarkan Dhamma, dan memperdalam praktik spiritual.

Bagi umat awam, Kathina menjadi kesempatan berderma sebagai ungkapan syukur dan penghormatan kepada Sangha. Mereka biasanya mengunjungi wihara dengan membawa persembahan berupa jubah baru, pakaian, maupun kebutuhan sehari-hari bagi para bhikkhu dan bhikkhuni.

Asal-usul Kathina

Asal-usul Kathina berasal dari kisah dalam Vinaya Pitaka. Suatu ketika, sekelompok bhikkhu terpaksa menjalani Vassa di Saketa karena hujan turun sebelum mereka sampai ke tempat Sang Buddha. Mereka berhasil melewati masa tersebut dengan penuh kedamaian dan disiplin. Sebagai penghargaan, Sang Buddha mengajarkan cara berbagi dengan memberikan kain dari umat awam untuk dibuat menjadi jubah. Kain itu dijahit menggunakan bingkai kayu bernama Kathina, yang kemudian menjadi nama perayaan ini.

Sejak saat itu, Buddha menetapkan bahwa pemberian jubah Kathina hanya boleh dilakukan dalam satu bulan setelah Vassa berakhir. Tradisi ini terus dipertahankan sebagai simbol kemurahan hati umat awam serta ikatan harmonis antara Sangha dan masyarakat Buddhis.

Makna dan Pelaksanaan Kathina

Kathina memiliki dua makna utama. Pertama, sebagai kesempatan umat awam mempersembahkan jubah dan kebutuhan pokok kepada Sangha. Kedua, sebagai momen para bhikkhu merefleksikan praktik selama Vassa serta memperkuat ikatan komunitas.

"Anujānāmi, bhikkhave, vassaṃvuṭṭhānaṃ bhikkhūnaṃ kathinaṃ attharituṃ." (Vin.i.254) yang artinya

"Para bhikkhu, Aku mengizinkan bhikkhu yang telah menyelesaikan Vassa untuk menggelar Kathina."

Ritual Kathina meliputi pemilihan bhikkhu penerima jubah, penjahitan (jika diperlukan), dan pemberkahan jubah.

Manfaat Kathina

Buddha menjelaskan lima kelonggaran (ānisaṃsā) bagi bhikkhu selama masa Kathina (Mahāvagga, Vin.i.255):

  1. Boleh bepergian tanpa membawa jubah lengkap.
  2. Boleh menyimpan jubah lebih dari sepuluh hari.
  3. Boleh makan di rumah umat setelah diundang.
  4. Boleh menyimpan jubah tambahan.
  5. Jubah yang diperoleh saat Kathina sah menjadi miliknya.

Kathina sebagai Latihan Cinta Kasih

Kathina mengajarkan semangat memberi tanpa membeda-bedakan. Seperti hujan yang membasahi semua tempat tanpa pilih kasih, umat Buddha diajarkan mempersembahkan dana Kathina dengan tulus, tanpa memandang bhikkhu tertentu. Bhikkhu yang hadir hanyalah wakil Sangha; jubah yang diberikan dapat digunakan siapa saja.

Persembahan ini tidak sekadar simbol kedermawanan, tetapi juga latihan cinta kasih (mettā). Dengan memperhatikan kebutuhan bhikkhu sandang, pangan, papan, dan obat-obatan umat belajar menumbuhkan kepedulian dan welas asih.

Kathina diadakan setahun sekali, namun semangat kebajikan yang dikandungnya hendaknya dilakukan setiap hari. Upacara ini menjadi pengingat agar kita memberi tanpa pilih kasih dan berusaha membahagiakan orang lain sesuai kebutuhannya, bukan sekadar keinginan kita.

Seperti disebutkan dalam Karaniyametta Sutta, cinta kasih sejati ditujukan kepada semua makhluk, tanpa pembedaan, tanpa kebencian, dan tanpa mengharapkan orang lain celaka. Inilah jalan menuju kesucian dan pembebasan dari kelahiran kembali:

"Na hi jatu gabbhaseyyam punareti 'ti" yang artinya

"Tidak akan terlahir lagi di rahim manapun juga."

Itulah informasi mengenai Hari Kathina. Selamat Hari Kathina.

Sumber:

  1. https://id.wikipedia.org/wiki/Kathina.
  2. https://lppm.smaratungga.ac.id/berita-view.php?t=hari-kathina%3A- perayaan-keluar-vassa-dalam-tradisi-buddha.
  3. https://samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/kathina-untuk-melatih- cinta-kasih/