April 22, 2026

Ikan Sapu-Sapu: Risiko Kontaminasi dan Dampaknya bagi Kesehatan

Ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) merupakan ikan air tawar yang banyak ditemukan di sungai dan perairan umum di Indonesia. Spesies ini awalnya diperkenalkan sebagai ikan pembersih akuarium, namun kini berkembang luas di alam liar dan bahkan dikategorikan sebagai spesies invasif.

Di beberapa daerah, pemanfaatan ikan sapu-sapu sebagai bahan pangan muncul sebagai respons terhadap tekanan ekonomi dan tingginya ketersediaan spesies ini di alam. Meski demikian, belum terdapat dasar ilmiah yang mendukung keamanannya sebagai ikan konsumsi, dan penelitian yang ada justru mengindikasikan potensi risiko kesehatan akibat paparan kontaminan dari lingkungan hidupnya.

Kandungan dan Karakteristik
Secara umum, ikan sapu-sapu memiliki kandungan makronutrien seperti protein, lemak, dan mineral yang cukup lengkap, namun data komposisi gizinya masih terbatas sehingga tidak menjadi standar konsumsi seperti ikan budidaya (Asnawi, 2023). Ikan ini hidup sebagai pemakan dasar (bottom feeder) yang berinteraksi langsung dengan sedimen perairan.

Selain itu, bagian tulangnya juga kaya akan kalsium dan fosfat yang dapat dimanfaatkan, misalnya sebagai bahan hidroksiapatit (Mangkuasih & Rohmawati, 2021) .

Risiko dan Bahaya yang Perlu Diwaspadai
Di balik manfaatnya, terdapat sejumlah risiko yang perlu menjadi perhatian serius:

1. Kontaminasi logam berat
Ikan sapu-sapu berpotensi mengandung logam berat seperti timbal (Pb), kadmium (Cd), dan tembaga (Cu). Penelitian di Sungai Bengawan Solo menunjukkan kandungan ini berkaitan dengan pencemaran perairan dan dapat menimbulkan risiko kesehatan jika terakumulasi dalam tubuh (Setyarini et al., 2017).

2. Akumulasi logam berat dalam rantai makanan
Logam berat pada ikan sapu-sapu dapat berpindah dan terakumulasi melalui rantai makanan. Studi menunjukkan paparan ini dapat berlanjut hingga produk pangan lain (seperti bebek), seperti daging dan telur hewan yang mengonsumsinya (Asnawi, 2023).

3. Paparan dari habitat tercemar
Ikan sapu-sapu dikenal sebagai bottom feeder (pemakan dasar), sehingga cenderung hidup di lingkungan berlumpur dan tercemar limbah, meningkatkan risiko paparan zat berbahaya.

4. Risiko biologis (bakteri dan parasit)
Habitat yang kotor juga meningkatkan kemungkinan kontaminasi mikroorganisme patogen yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

5. Tidak hilang saat dimasak
Logam berat seperti timbal tidak dapat hilang sepenuhnya melalui proses pemasakan, sehingga tetap berisiko bagi kesehatan jika terakumulasi dalam tubuh.

Berdasarkan penelitian yang tersedia, ikan sapu-sapu lebih banyak dikaitkan dengan risiko kesehatan dibandingkan manfaat sebagai bahan pangan. Faktor utama yang menjadi perhatian adalah kemampuannya mengakumulasi logam berat serta hidup di lingkungan perairan yang berpotensi tercemar. Oleh karena itu, konsumsi ikan sapu-sapu masih menjadi isu yang memerlukan kehati-hatian tinggi dan kajian lebih lanjut dari sisi keamanan pangan.

Untuk perlindungan kesehatan yang lebih optimal di tengah berbagai risiko yang tidak terduga, penting untuk mempertimbangkan solusi perlindungan yang tepat. Pelajari lebih lanjut mengenai manfaat dan perlindungan dari produk Asuransi Simas Sehat di website Asuransi Sinar Mas.

Sumber
Asnawi. (2023). Heavy metal content in duck eggs and meat that consumes feed containing Sapu-sapu fish (Hypostomus plecostomus). Biodiversitas, 24, 3201–3206. https://doi.org/10.13057/biodiv/d240613
Mangkuasih, S. M., & Rohmawati, L. (2021). Sintesis hidroksiapatit dari tulang ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) dengan metode presipitasi. Jurnal Teori dan Aplikasi Fisika, 9(2), 229–236. https://doi.org/10.23960/jtaf.v9i2.366
Setyarini, R. E., Astuti, D., & Ambarwati, A. (2017). The investigation of heavy metal content (Cu, Cd, Pb) in sapu-sapu fish (Hypostomus plecostomus) in Bengawan Solo River. Forum Geografi. https://doi.org/10.23917/forgeo.v19i2.4840