May 22, 2026

Healing Boleh, Tapi Keuangan Tetap Harus Terkontrol

Di era sekarang, istilah healing sudah menjadi bagian dari gaya hidup banyak orang, terutama generasi muda. Setelah sibuk bekerja, kuliah, atau menghadapi tekanan sehari-hari, banyak orang memilih liburan singkat, nongkrong di kafe, belanja online, atau menonton konser sebagai cara untuk mengembalikan suasana hati. Self-reward memang penting untuk menjaga kesehatan mental, tetapi tanpa pengelolaan keuangan yang baik, kebiasaan ini bisa berubah menjadi pengeluaran impulsif yang merugikan diri sendiri.

Kemudahan transaksi digital saat ini membuat orang semakin mudah mengeluarkan uang tanpa sadar. Kehadiran dompet digital, kartu kredit, hingga layanan paylater sering kali membuat seseorang merasa “baik-baik saja” saat berbelanja, padahal pengeluaran terus bertambah. Ditambah lagi, media sosial sering memunculkan tekanan untuk mengikuti tren dan gaya hidup tertentu. Akibatnya, banyak orang lebih fokus pada kesenangan sesaat dibandingkan kondisi keuangan jangka panjang.

Padahal, mengatur keuangan bukan berarti tidak boleh menikmati hidup. Justru, dengan kondisi finansial yang sehat, seseorang bisa menikmati hidup dengan lebih tenang tanpa rasa cemas setelah menghabiskan uang. Salah satu cara sederhana yang bisa dilakukan adalah membuat batas anggaran untuk hiburan atau self-reward setiap bulan. Dengan begitu, kebutuhan utama seperti tabungan, dana darurat, cicilan, dan kebutuhan harian tetap aman.

Selain itu, penting untuk mulai membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Tidak semua bentuk healing harus mahal. Berjalan santai, berolahraga, membaca buku, memasak makanan favorit di rumah, atau menghabiskan waktu bersama keluarga juga bisa menjadi bentuk healing yang sederhana namun tetap bermakna. Ketika seseorang mampu menikmati hidup tanpa memaksakan kondisi finansial, keseimbangan antara kesehatan mental dan kesehatan keuangan pun dapat lebih mudah tercapai.

Untuk menjaga keseimbangan tersebut, penting juga menyusun anggaran keuangan yang realistis sesuai kondisi saat ini. Kamu bisa menggunakan metode sederhana, seperti 50% untuk kebutuhan, 30% untuk keinginan, dan 20% untuk tabungan atau investasi. Jika kondisi keuangan sedang lebih ketat, porsi “keinginan” dapat dikurangi agar fokus pada kebutuhan utama dan tabungan tetap terjaga.

Literasi keuangan juga menjadi hal penting di tengah gaya hidup modern saat ini. Memahami cara mengelola uang, menabung, dan membuat prioritas pengeluaran dapat membantu seseorang terhindar dari stres finansial di masa depan. Karena pada akhirnya, ketenangan hidup tidak hanya datang dari kesenangan sesaat, tetapi juga dari rasa aman terhadap kondisi keuangan diri sendiri. Tetap bijak mengelola keuangan meski keinginan healing terus memuncak!

Sumber : OJK, Kemenkeu, BI