Sejarah Kota Solo: Dari Desa Sala hingga Menjadi Pusat Budaya Jawa
Sejarah Kota Solo dapat ditelusuri hingga masa prasejarah, ketika fosil Homo erectus ditemukan di Sangiran, Kabupaten Sragen. Namun secara umum, sejarah kota ini berawal dari sebuah desa kecil dan tenang bernama Sala yang terletak sekitar 10 kilometer di timur Kartasura, pusat Kerajaan Mataram pada masa itu.
Asal Mula: Dari Geger Pecinan ke Boyong Kedaton
Pada masa pemerintahan Susuhunan Pakubuwono II, terjadi peristiwa Geger Pecinan—pemberontakan masyarakat Tionghoa terhadap VOC di Batavia yang kemudian menyebar ke berbagai daerah, termasuk Kartasura. Awalnya, Pakubuwono II sempat mendukung pemberontakan tersebut, tetapi kemudian berpihak kepada VOC. Keputusan ini memicu kemarahan rakyat Jawa-Tionghoa yang dipimpin oleh Raden Mas Garendi (Sunan Kuning) dan Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa).
Akibat perang besar itu, Keraton Kartasura hancur total. Dalam kepercayaan Jawa, kerajaan yang hancur tak pantas dibangun kembali di tempat yang sama. Karena itu, Pakubuwono II memutuskan memindahkan pusat kerajaan ke Desa Sala.
Perpindahan tersebut dikenal sebagai Boyong Kedaton, yang berlangsung pada Rabu, 17 Februari 1745. Rombongan besar kerajaan meninggalkan Kartasura dengan iring-iringan kereta Kyai Garudha, diikuti para pejabat, abdi dalem, serta perwakilan Belanda, Baron van Hohendorff. Seluruh pusaka kerajaan, gamelan, bahkan pohon beringin diboyong menuju tempat baru di tepi Bengawan Solo. Di lokasi baru itu, Pakubuwono II menetapkan berdirinya Keraton Surakarta Hadiningrat, yang menandai lahirnya Kota Solo.
Desa Sala dan Asal Nama Solo
Desa Sala kala itu dipimpin oleh Ki Gede Sala. Letaknya yang strategis di tepi Bengawan Solo menjadikannya pilihan ideal untuk pusat pemerintahan dan perdagangan. Pembangunan Keraton Surakarta dimulai pada 1743 dan diresmikan pada 17 Februari 1745, meski belum sepenuhnya selesai.
Dalam aksara Jawa, “Sala” dibaca seperti “Solo.” Namun, orang-orang Belanda kesulitan melafalkan “Sala” dan menyebutnya “Solo.” Sejak itu, nama “Solo” lebih populer digunakan masyarakat, sementara “Surakarta” tetap menjadi nama resmi administratif hingga kini.
Perjanjian Giyanti dan Lahirnya Dua Kerajaan
Lima tahun setelah berdirinya Keraton Surakarta, terjadi Perjanjian Giyanti (1755) yang membagi Kerajaan Mataram menjadi dua: Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat. Perjanjian ini menandai berakhirnya masa Mataram sebagai satu kesatuan kerajaan besar.
Dua tahun kemudian, Perjanjian Salatiga (1757) melahirkan Kadipaten Mangkunegaran, wilayah semi-otonom yang dipimpin Raden Mas Said (Mangkunegara I). Sejak saat itu, Kota Solo memiliki dua pusat kekuasaan: Kasunanan dan Mangkunegaran.
Masa Kolonial dan Modernisasi
Pada masa kolonial Belanda, Solo berkembang pesat. Pemerintah Hindia Belanda membangun infrastruktur seperti jalan, jalur kereta api, dan gedung pemerintahan. Solo juga tumbuh sebagai pusat perdagangan batik, pendidikan, dan kebudayaan Jawa. Meskipun kekuasaan politik keraton dibatasi, Surakarta tetap menjadi pusat seni, sastra, dan spiritualitas Jawa.
Pergerakan Nasional dan Masa Revolusi
Pada awal abad ke-20, Solo menjadi salah satu pusat pergerakan nasional. Tokoh-tokoh seperti HOS Tjokroaminoto dan para pemuda Sarekat Islam aktif menggerakkan kesadaran bangsa. Saat Revolusi Kemerdekaan, Solo menjadi wilayah strategis yang beberapa kali berganti kendali antara pasukan Belanda dan Republik Indonesia.
Era Orde Baru hingga Reformasi
Memasuki masa Orde Baru, Solo berkembang menjadi kota perdagangan dan pendidikan. Namun, ketegangan sosial sempat terjadi, termasuk kerusuhan besar pada 1998 yang mengguncang sektor ekonomi. Setelah reformasi, Solo bangkit dan mulai melakukan revitalisasi kawasan bersejarah, mempercantik pasar tradisional, serta memperkuat sektor pariwisata budaya.
Solo Modern: Kota Budaya dan Inovasi
Kini, Solo menegaskan identitasnya sebagai kota budaya yang dinamis. Berbagai festival seperti Solo Batik Carnival dan Festival Payung Indonesia rutin digelar, memperkuat citra kota sebagai pusat seni dan tradisi. Infrastruktur modern seperti Bandara Adi Soemarmo dan Tol Trans Jawa turut memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata unggulan.
Salah satu inovasi terbaru adalah kawasan Pracima Mangkunegaran, yang menggabungkan pelestarian budaya dengan gaya hidup modern. Dua destinasi unggulannya adalah Pracimasana, ruang makan istana yang menghidupkan kembali tradisi royal fine dining, dan Pracimaloka, taman teh dan pastri berkonsep tropis klasik Jawa. Keduanya menjadi simbol bagaimana budaya dapat dihidupkan secara kreatif dan bernilai ekonomi.
Itulah informasi seputar Kuliner Khas Solo. Apakah Anda semakin tertarik untuk berkunjung ke Solo?
Disamping itu, jika Anda sedang berada di Solo, jangan lupa untuk berkunjung ke Asuransi Sinar Mas Cabang Solo. Yuk kunjungi Asuransi Sinar Mas Cabang Solo pada halaman berikut:
1. Asuransi Sinar Mas Cabang Solo
2. Asuransi Sinar Mas Kantor Pemasaran Agency Solo
Perkuat rasa cintamu pada Indonesia dengan menambah wawasan budaya nusantara di saluran whatsapp ini.
Sumber:
- "Sejarah Kota Solo, Sebuah Desa Terpencil nan Tenang hingga 1744" https://www.detik.com/jateng/budaya/d-6254452/sejarah-kota-solo-sebuah-desa-terpencil-nan-tenang-hingga-1744.
- https://travel.kompas.com/read/2023/02/15/
171800327/sejarah-kota-solo-berawal-dari-geger-pecinan-hingga-pindah-keraton?page=all. - https://pracimabogasana.co.id/sejarah-kota-solo-dari-kerajaan-mataram-ke-kota-budaya-modern/
- https://solopos.espos.id/sejarah-kota-solo-yang-kerap-disebut-surakarta-berawal-dari-desa-sala-1186252.