Warisan Tari Klasik Jawa Tengah: Cermin Keindahan dan Filsafat Budaya Jawa
Indonesia dikenal sebagai negara dengan kebudayaan yang sangat beragam karena wilayahnya yang luas, membentang dari Sabang hingga Merauke. Setiap daerah memiliki ciri khas budaya masing-masing, salah satunya adalah seni tari.
Di era globalisasi saat ini, pelestarian budaya tetap penting dilakukan agar generasi muda tidak melupakan jati diri bangsa, termasuk dengan mempelajari tari tradisional. Tari tradisional merupakan cerminan identitas daerah yang berkembang sejak lama dan diwariskan secara turun-temurun. Walau tarian modern semakin digemari, tarian tradisional masih eksis berkat peran sanggar budaya dan pementasan dalam berbagai acara adat serta kebudayaan.
Tari-Tarian dari Jawa Tengah
Jawa Tengah dikenal sebagai pusat kebudayaan Jawa yang kaya akan tradisi dan kesenian, termasuk seni tari. Tarian tradisional di daerah ini kerap ditampilkan dalam acara adat, pernikahan, hingga pertunjukan seni.
1. Tari Gambyong
Tari Gambyong merupakan tarian tradisional yang berasal dari Surakarta. Awalnya merupakan tari rakyat yang ditampilkan pada musim tanam dan panen sebagai penghormatan kepada Dewi Sri, dewi kesuburan. Tarian ini dibawakan oleh penari wanita dengan busana berwarna hijau dan selendang kuning (sampur) sebagai simbol kemakmuran, diiringi musik gamelan dan nyanyian sinden.
Nama “Gambyong” diambil dari seorang penari tledhek terkenal bernama Nyai Lurah Gambyong pada masa Pakubuwana IV (1788–1820). Awalnya merupakan bagian dari tari tayub, lalu dikembangkan di lingkungan keraton Surakarta.
Pada masa Pakubuwana IX (1861–1893), K.R.M.T Wreksodiningrat memperkenalkan versi keraton dari tari ini. Modifikasi berlanjut di Mangkunegaran hingga muncul berbagai versi seperti Gambyong Pareanom, Gambyong Mudhatama, dan Gambyong Pangkur.
Makna dan Fungsi Tari Gambyong
Makna:
- Kecantikan dan kelembutan, melambangkan citra ideal wanita Jawa.
- Keramahan, sebagai simbol penyambutan tamu.
- Semangat dan optimisme, mencerminkan semangat masyarakat Jawa.
Fungsi:
- Penyambutan tamu dalam berbagai acara.
- Penghormatan kepada Dewi Sri saat musim tanam dan panen.
- Hiburan masyarakat dan sarana pelestarian budaya Jawa.
Tari Gambyong secara umum terdiri atas tiga bagian, yaitu:
- Maju beksan (bagian awal).
- Beksan (bagian isi).
- Mundur beksan (bagian akhir).
Keunikan Tari Gambyong
- Perpaduan budaya rakyat dan keraton.
- Gerakan tangan dan kepala yang dominan dan ekspresif.
- Memiliki banyak variasi dan modifikasi.
- Dapat dibawakan secara tunggal maupun berkelompok.
- Mengandung makna simbolik dan nilai budaya yang dalam.
2. Tari Bedhaya Ketawang
Tari Bedhaya Ketawang merupakan tarian klasik dan sakral dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Tarian ini dianggap sebagai lambang keagungan dan spiritualitas raja Jawa, serta hanya dipentaskan pada upacara penting seperti penobatan dan peringatan kenaikan takhta Sunan Surakarta.
Menurut legenda, tarian ini diciptakan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613–1645) setelah beliau mendapat ilham berupa suara tembang dari langit ketika sedang bertapa. Dari pengalaman spiritual itu, lahirlah tari Bedhaya Ketawang, yang berarti “penari langit”.
Makna dan Filosofi
Tari Bedhaya Ketawang menggambarkan kisah asmara Kanjeng Ratu Kidul dengan raja Mataram, yang diungkapkan melalui gerak lembut tangan, kaki, dan seluruh tubuh penari. Setiap gerakan memiliki makna filosofis mendalam yang berkaitan dengan keseimbangan, kesucian, dan keharmonisan antara dunia manusia dan dunia spiritual.
Dalam mitologi Jawa, sembilan penari Bedhaya Ketawang melambangkan sembilan arah mata angin (Nawasanga) yang dijaga oleh sembilan dewa. Setiap penari memiliki simbol tersendiri:
- Batak – pikiran dan jiwa.
- Endhel Ajeg – keinginan hati atau nafsu.
- Endhel Weton – tungkai kanan.
- Apit Ngarep – lengan kanan.
- Apit Mburi – lengan kiri.
- Apit Meneg – tungkai kiri.
- Gulu – badan.
- Dhada – badan.
- Buncit – organ seksual, melambangkan konstelasi bintang di langit (tawang).
3. Tari Serimpi
Tari Serimpi merupakan salah satu tarian klasik dari Jawa Tengah yang memiliki kemiripan dengan Tari Bedhaya, terutama pada teknik gerak, kostum, serta karakter kelembutan penarinya. Biasanya, tarian ini dipentaskan di lingkungan Keraton Jawa Tengah pada acara budaya dan perayaan hari besar.
Tari Serimpi melambangkan empat unsur alam semesta, yaitu bumi, air, api, dan udara, sekaligus mewakili empat penjuru mata angin. Gerakannya lembut dan penuh keanggunan, mirip dengan Tari Pakarena dari Makassar. Sejak dahulu, tarian ini menempati posisi istimewa di keraton karena dianggap memiliki nilai sakral, meski tidak sesakral Tari Bedhaya.
Tari Serimpi dahulu hanya boleh dibawakan oleh penari pilihan dari kalangan keraton. Ceritanya menggambarkan pertarungan antara empat tokoh wanita menggunakan senjata keris atau belati. Keunikan tarian ini terletak pada kostum penarinya yang menggunakan jubah atau sarung berwarna putih sebagai lambang kesucian dan ketulusan. Gerakannya yang halus diiringi gamelan menampilkan simbol kelembutan dan keanggunan perempuan Jawa.
4. Tari Bondan
Tari Bondan berasal dari Surakarta, Jawa Tengah, dan melambangkan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Dalam pertunjukannya, penari menampilkan sosok seorang ibu yang menimang bayinya menggunakan boneka sambil membawa payung terbuka.
Ciri khas Tari Bondan adalah adegan menari di atas kendi (toples tanah liat) tanpa menjatuhkannya, yang melambangkan kehati-hatian dan kasih sayang seorang ibu dalam menjaga anaknya. Tari Bondan terbagi menjadi tiga jenis, yaitu Bondan Cindogo Mariah, Bondan Mardisiwi, dan Bondan Gunung.
Busana yang digunakan menggambarkan kesederhanaan perempuan desa, lengkap dengan keranjang, topi caping, dan alat-alat pertanian. Tarian ini mengandung pesan moral tentang ketulusan dan pengorbanan seorang ibu.
5. Tari Beksan Wireng
Tari Beksan Wireng merupakan tarian klasik Jawa Tengah yang menggambarkan semangat kepahlawanan dan latihan perang para prajurit. Tarian ini sudah dikenal sejak abad ke-12 dan berasal dari lingkungan keraton di Surakarta serta Pura Mangkunegaran.
Tari Beksan Wireng diciptakan pada masa pemerintahan Amiluhur, yang menginginkan rakyatnya selalu siap mempertahankan kerajaan. Oleh karena itu, tarian ini berisi gerak-gerak bela diri dan keterampilan menggunakan senjata seperti tombak atau pedang, namun tetap dikemas secara estetis dalam bentuk tari.
Kini, Tari Beksan Wireng sering ditampilkan dalam acara budaya dan festival untuk melestarikan semangat kepahlawanan masyarakat Jawa.
6. Tari Gambir Anom
Tari Gambir Anom adalah tarian klasik dari Surakarta yang menceritakan kisah Irawan, putra Arjuna, yang sedang jatuh cinta. Tarian ini mengekspresikan perasaan cinta dan kerinduan melalui gerak tubuh yang lembut namun penuh makna.
Dalam pertunjukannya, penari menggambarkan Irawan yang sedang bercermin, merapikan diri, dan berkhayal tentang pujaan hatinya. Gerakannya penuh ekspresi dan romantis, sering kali dikemas dalam bentuk tarian tunggal (solo dance). Tari Gambir Anom dapat dibawakan oleh penari pria maupun wanita.
7. Tari Dolalak
Tari Dolalak berasal dari Purworejo, Jawa Tengah, dan berkembang sejak masa penjajahan Belanda sekitar tahun 1915. Tarian ini menampilkan gerak energik yang terinspirasi dari gerakan serdadu Belanda, sehingga kostum penarinya menyerupai seragam militer lengkap dengan topi, kacamata hitam, lencana bahu, dan sepatu bot.
Tari Dolalak biasanya dibawakan oleh beberapa penari secara berkelompok, diiringi musik kendang, kentrung, rebana, dan kecer. Dalam perkembangannya, Tari Dolalak juga mengandung unsur hiburan dan ritual, serta kerap disertai dengan nyanyian dan improvisasi yang menciptakan suasana meriah.
8. Tari Lengger
Tari Lengger merupakan salah satu tarian rakyat kuno dari Jawa Tengah yang memiliki nilai spiritual tinggi. Pada awalnya, tarian ini berfungsi sebagai ritual kesuburan, di mana penari pria sering kali berdandan seperti wanita. Hal ini melambangkan keseimbangan dan kesatuan antara unsur maskulin dan feminin.
Dalam perkembangannya, Tari Lengger menjadi bentuk hiburan rakyat yang tetap sarat nilai budaya dan spiritualitas. Para penari biasanya menari sambil bernyanyi, menampilkan gerak yang anggun dan menggoda.
Busana Tari Lengger umumnya berwarna cerah dengan hiasan kepala dan selendang (sampur) yang indah. Tarian ini mencerminkan ekspresi kebahagiaan dan kegembiraan masyarakat Jawa dalam menyambut kehidupan dan kesuburan alam.
9. Tari Gambir Anom
Menurut laman Javanologi UNS, tarian ini telah ada sejak masa Kerajaan Mataram Islam. Tari Gambir Anom memiliki makna filosofis yang menggambarkan sosok Irawan, putra Arjuna dari kisah pewayangan, yang tengah diliputi perasaan cinta dan kerinduan.
Pada awalnya, Tari Gambir Anom diciptakan sebagai tarian tunggal untuk penari laki-laki. Namun, seiring perkembangannya, tarian ini juga sering dibawakan oleh penari perempuan. Keunikan Tari Gambir Anom terletak pada gerakannya yang lembut dan gemulai, dipadukan dengan gerakan pantomim seperti berdandan dan menunjukkan ekspresi kebingungan yang menggambarkan suasana hati tokoh Irawan.
Meskipun dahulu hanya dipentaskan di lingkungan Keraton Surakarta, kini Tari Gambir Anom sering ditampilkan dalam berbagai acara besar sebagai simbol sambutan penuh keanggunan dan keramahan khas budaya Jawa.
Itulah informasi seputar Warisan Tari Klasik Jawa Tengah. Apakah Anda semakin tertarik untuk berkunjung ke Solo?
Disamping itu, jika Anda sedang berada di Solo, jangan lupa untuk berkunjung ke Asuransi Sinar Mas Cabang Solo. Yuk kunjungi Asuransi Sinar Mas Cabang Solo pada halaman berikut:
1. Asuransi Sinar Mas Cabang Solo
2. Asuransi Sinar Mas Kantor Pemasaran Agency Solo
Perkuat rasa cintamu pada Indonesia dengan menambah wawasan budaya nusantara di saluran whatsapp ini.
Sumber:
- "Tari Gambyong, Kesenian Solo yang Dipentaskan untuk Menghormati Dewi Sri" https://www.detik.com/jateng/budaya/d-7387542/tari-gambyong-kesenian-solo-yang-dipentaskan-untuk-menghormati-dewi-sri.
- https://www.gramedia.com/literasi/tarian-jawa-tengah/?srsltid=AfmBOop9JCQkTG0R1jzTTUz1cNDVWA3
aIbaQZs-tGXD0o4fQxiq1FLqj. - "Mengenal Dua Tarian Jawa Tengah untuk Penyambutan Tamu" https://www.detik.com/jateng/budaya/d-7043790/mengenal-dua-tarian-jawa-tengah-untuk-penyambutan-tamu.
- https://www.gramedia.com/literasi/sejarah-dan-makna-filosofis-tari-bedhaya-ketawang-surakarta/?srsltid=AfmBOopuQpk230A1-GG3ybD5uEqkMa_otcZd41tJkb76ZgA2UXH7wBho.