September 01, 2026

Loud Budgeting: Berani Berkata Tidak demi Kondisi Keuangan-mu!

Pernah diajak nongkrong, liburan, atau membeli barang yang sedang tren, tetapi sebenarnya sedang ingin menghemat? Kalau biasanya kita mencari alasan untuk menolak, tren loud budgeting justru mengajak kita mengatakan kondisi finansial apa adanya: “Aku lagi nggak ada budget untuk itu.”

Istilah loud budgeting mulai populer melalui TikTok pada akhir 2023 setelah diperkenalkan oleh kreator konten Lukas Battle sebagai kebalikan dari quiet luxury. Konsepnya sederhana: seseorang secara terbuka menyampaikan batasan dan tujuan keuangannya agar tidak mudah terdorong untuk mengeluarkan uang di luar rencana. Tren ini bahkan masih banyak dibahas pada 2026 sebagai cara menetapkan batasan finansial dan mengurangi tekanan sosial untuk ikut mengeluarkan uang.

Namun, loud budgeting sebenarnya bukan sekadar tren media sosial. Jika dilihat dari perspektif syariah, kebiasaan mengatur pengeluaran secara sadar dan menghindari konsumsi berlebihan juga sejalan dengan prinsip keseimbangan dalam membelanjakan harta.


Loud Budgeting dan Prinsip Moderasi dalam Islam

Dalam Islam, mengelola harta tidak hanya berkaitan dengan seberapa banyak yang dimiliki, tetapi juga bagaimana harta tersebut digunakan. Al-Qur'an menggambarkan orang-orang yang baik dalam membelanjakan hartanya sebagai mereka yang tidak berlebihan dan tidak pula kikir, tetapi mengambil jalan yang wajar di antara keduanya dalam QS. Al-Furqan ayat 67.

Prinsip tersebut menunjukkan bahwa menghindari pemborosan tidak sama dengan harus menahan seluruh pengeluaran. Ada keseimbangan antara memenuhi kebutuhan, menikmati sesuatu yang diperbolehkan, memenuhi tanggung jawab, serta menghindari pengeluaran yang berlebihan.

Majelis Ulama Indonesia juga menekankan bahwa konsumsi dalam Islam diperbolehkan selama halal, baik, dan tidak berlebihan (israf).

Karena itu, loud budgeting dapat menjadi kebiasaan praktis untuk menerapkan prinsip tersebut dalam kehidupan sehari-hari: belanja bukan karena tekanan sosial, melainkan karena memang sesuai dengan kemampuan dan prioritas.


Cara Menerapkan Loud Budgeting dalam Kehidupan Sehari-hari

Loud budgeting tidak harus dilakukan dengan mengumumkan kondisi keuangan kepada semua orang. Yang terpenting adalah mampu menetapkan batasan dan mengkomunikasikannya ketika diperlukan.

1. Tentukan tujuan keuangan

Sebelum berkata tidak, ketahui terlebih dahulu apa yang ingin dicapai. Misalnya, ingin membangun dana darurat, menabung untuk perjalanan, membeli kendaraan, atau mempersiapkan kebutuhan keluarga.

2. Bedakan kebutuhan dan keinginan

Tidak semua pengeluaran yang menyenangkan harus dihilangkan. Coba tanyakan kepada diri sendiri: Apakah saya memang membutuhkan ini, atau hanya merasa harus memilikinya karena orang lain juga punya?

3. Berani mengatakan tidak

Tidak perlu mencari alasan rumit ketika memang tidak ingin atau tidak mampu mengeluarkan uang. Kalimat sederhana seperti “Aku lagi ada target keuangan, jadi kali ini skip dulu ya” sudah cukup.

4. Cari alternatif yang lebih terjangkau

Menolak pengeluaran mahal bukan berarti harus menolak kebersamaan. Nongkrong di rumah, memilih restoran dengan harga lebih terjangkau, atau mengganti perjalanan mahal dengan kegiatan yang lebih sederhana bisa menjadi pilihan.

5. Jangan menjadikan budgeting sebagai kompetisi

Tujuan loud budgeting bukan untuk menunjukkan siapa yang paling hemat. Kondisi dan tujuan keuangan setiap orang berbeda. Yang terpenting adalah membuat keputusan berdasarkan kemampuan sendiri, bukan berdasarkan gaya hidup orang lain.

Berani Berkata Tidak, Bukan Berarti Tidak Bisa Menikmati Hidup

Loud budgeting mengingatkan bahwa memiliki batasan finansial bukan sesuatu yang perlu disembunyikan. Justru, terbuka mengenai prioritas keuangan dapat membantu seseorang mengurangi tekanan untuk selalu mengikuti gaya hidup di sekitarnya.

Dalam perspektif syariah, kebiasaan tersebut juga dapat menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan dalam menggunakan harta. Bukan tentang berhenti menikmati hidup, melainkan memastikan setiap pengeluaran memiliki alasan dan tidak dilakukan secara berlebihan.

Pada akhirnya, berani berkata “tidak dulu” hari ini bisa menjadi langkah kecil untuk menjaga kondisi keuangan dan mempersiapkan masa depan dengan lebih tenang.



Sumber
MUI, Bankrate