August 31, 2026

Mengapa Otak Lebih Mudah Mengingat Hal Memalukan daripada Hal Membanggakan?

Pernahkah kamu mendadak teringat momen memalukan seperti salah menyebut nama orang, terpeleset di depan banyak orang, atau menyatakan sesuatu yang sebenarnya biasa saja, tapi beberapa tahun kemudian masih menyesalinya dan terus terbayang? Lucunya, otak kita justru sering menyimpan kejadian-kejadian memalukan tersebut dengan sangat jelas. Di sisi lain, pencapaian yang membanggakan kadang justru terasa lebih cepat terlupakan.

Fenomena ini bukan sekadar karena kita terlalu banyak memikirkan masa lalu. Emosi dapat mempengaruhi bagaimana otak membentuk dan menyimpan memori. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa peristiwa yang memiliki muatan emosional cenderung diingat lebih sering dan lebih jelas dibandingkan peristiwa yang netral.

Rasa Malu Membuat Otak Lebih Memperhatikan Suatu Kejadian
Rasa malu merupakan salah satu self conscious emotion, yaitu emosi yang muncul ketika kita menilai diri sendiri dalam situasi sosial. Saat merasa malu, kita bukan hanya memikirkan apa yang terjadi, tetapi juga bagaimana kita terlihat di hadapan orang lain.


Menurut Simply Neuroscience, rasa malu melibatkan beberapa bagian otak yang berhubungan dengan pemrosesan emosi dan penilaian sosial, termasuk amygdala dan anterior insula. Ketika suatu pengalaman terasa sangat emosional, otak cenderung memberikan perhatian lebih besar terhadap pengalaman tersebut.


Hal ini berkaitan dengan cara otak membentuk memori. Amygdala, yang berperan dalam pemrosesan emosi, dapat memengaruhi proses penyimpanan memori. Pengalaman yang memiliki muatan emosional kuat dapat menjadi lebih mudah diingat dibandingkan kejadian sehari hari yang tidak memberikan respons emosional yang berarti.

Itulah mengapa satu kesalahan kecil di depan banyak orang bisa terasa lebih melekat dibandingkan puluhan percakapan biasa yang terjadi pada hari yang sama.

Mengapa Momen Memalukan Terasa Begitu Sulit Dilupakan?
Ada kemungkinan bahwa otak menganggap pengalaman yang membuat kita tidak nyaman sebagai sesuatu yang perlu diperhatikan untuk menghadapi situasi serupa di masa depan. Jika pernah mengalami kejadian yang membuat malu, kita mungkin menjadi lebih berhati hati ketika berada dalam situasi yang mirip.

Misalnya, seseorang pernah salah menyebut nama ketika memperkenalkan diri dalam sebuah pertemuan. Setelahnya, ia mungkin menjadi lebih sering memeriksa nama orang sebelum berbicara. Pengalaman yang tidak menyenangkan tersebut akhirnya menjadi semacam referensi bagi otak.

Namun, ada satu hal yang menarik. Mengingat sesuatu dengan sangat jelas tidak selalu berarti kita mengingatnya dengan tepat. Memori bukanlah rekaman video yang disimpan di dalam otak. Setiap kali kita mengingat suatu kejadian, memori tersebut dapat mengalami perubahan. Detail tertentu bisa hilang, berubah, atau terasa semakin kuat karena kita berkali kali memikirkannya.

Jadi, kalau kita masih merasa yakin bahwa semua orang di ruangan menertawakan kesalahan kita bertahun tahun lalu, belum tentu orang lain benar benar mengingatnya dengan cara yang sama.

Pada akhirnya, otak memang cenderung menyimpan pengalaman yang terasa emosional. Tetapi bukan berarti kita harus terus hidup di dalamnya. Momen memalukan bisa menjadi bagian dari pengalaman yang membantu kita belajar, lalu perlahan menjadi sesuatu yang cukup untuk dikenang tanpa harus terus disesali.



Sumber
Simply Neuroscience, Annual Review of Neuroscience