Apa Itu Doom Spending? Kenali Penyebab, Tanda, dan Cara Mengatasinya
Di tengah ketidakpastian ekonomi, kenaikan biaya hidup, hingga banjir informasi negatif di media sosial, muncul sebuah fenomena yang semakin sering dibicarakan, yaitu doom spending. Istilah ini menggambarkan kebiasaan menghabiskan uang secara impulsif sebagai cara untuk mengatasi stres, kecemasan, atau rasa pesimis terhadap masa depan.
Sekilas, membeli barang favorit mungkin terasa seperti bentuk self-reward. Namun, jika dilakukan berulang kali untuk meredakan emosi negatif, kebiasaan ini justru dapat memperburuk kondisi keuangan dalam jangka panjang.
Lantas, apa sebenarnya doom spending? Apa penyebabnya, dan bagaimana cara menghindarinya?
Apa Itu Doom Spending?
Doom spending adalah perilaku mengeluarkan uang secara impulsif untuk mendapatkan rasa nyaman atau kebahagiaan sesaat ketika seseorang merasa cemas terhadap kondisi ekonomi, karier, kehidupan pribadi, maupun masa depan. Berbeda dengan belanja karena kebutuhan, doom spending lebih didorong oleh kondisi emosional daripada pertimbangan finansial.Fenomena ini mulai banyak diperbincangkan setelah berbagai survei menunjukkan bahwa generasi muda, terutama Gen Z dan milenial, lebih rentan melakukan pembelian impulsif ketika menghadapi tekanan ekonomi, inflasi, atau ketidakpastian masa depan.
Penyebab Doom Spending
Beberapa faktor yang dapat memicu doom spending antara lain:
- Ketidakpastian ekonomi. Kekhawatiran terhadap inflasi, kondisi pekerjaan, atau masa depan membuat sebagian orang memilih menikmati uang sekarang daripada menabung.
- Stres dan kecemasan. Belanja dapat memberikan rasa senang sementara karena memicu pelepasan hormon dopamin, meski efeknya tidak bertahan lama.
- Media sosial. Konten gaya hidup dan promosi produk yang terus bermunculan dapat mendorong keinginan membeli barang yang sebenarnya tidak diperlukan.
- Kemudahan berbelanja online. E-commerce, dompet digital, hingga layanan buy now, pay later (BNPL) membuat transaksi menjadi lebih cepat sehingga pembelian impulsif lebih mudah terjadi.
Dampak Doom Spending
Jika tidak dikendalikan, doom spending dapat menyebabkan:
- Pengeluaran lebih besar daripada pendapatan.
- Sulit membangun tabungan atau dana darurat.
- Meningkatnya utang akibat kartu kredit atau cicilan.
- Tujuan keuangan jangka panjang menjadi tertunda.
Dalam jangka panjang, kondisi ini justru dapat menambah stres karena masalah keuangan yang muncul.
Cara Mengatasi Doom Spending
Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi kebiasaan doom spending:- Kenali pemicunya. Perhatikan apakah Anda cenderung berbelanja saat sedang stres, bosan, atau cemas.
- Tunda keputusan membeli. Beri jeda 24–48 jam sebelum membeli barang yang bukan kebutuhan agar keputusan lebih rasional.
- Buat anggaran khusus untuk hiburan. Anda tetap bisa menikmati hasil kerja keras tanpa mengganggu kondisi keuangan.
- Kurangi godaan belanja. Matikan notifikasi aplikasi belanja atau batasi paparan konten yang memicu keinginan membeli.
- Fokus pada tujuan keuangan. Mengingat kembali target seperti dana darurat, investasi, atau liburan dapat membantu mengendalikan pengeluaran.
Doom spending adalah kebiasaan berbelanja impulsif yang dipicu oleh rasa cemas atau pesimisme terhadap masa depan. Meskipun memberikan kepuasan sesaat, kebiasaan ini dapat berdampak negatif pada kesehatan finansial jika dilakukan terus-menerus.
Dengan mengenali penyebabnya dan menerapkan kebiasaan belanja yang lebih bijak, Anda dapat menjaga keseimbangan antara menikmati hidup saat ini dan mencapai tujuan keuangan di masa depan.
Sumber
Verywell Mind
