Mengenal Mental Accounting: Cara Otak Mengelompokkan Uang
Sebagian orang memiliki rekening khusus untuk tabungan, rekening lain untuk kebutuhan sehari-hari, atau bahkan menyimpan uang dalam amplop yang berbeda sesuai peruntukannya. Ada pula yang langsung membagi gaji menjadi pos kebutuhan bulanan, dana darurat, hingga dana liburan begitu menerima penghasilan.
Tanpa disadari, kebiasaan sederhana tersebut merupakan salah satu konsep dalam behavioral finance yang dikenal sebagai mental accounting. Agar lebih memahaminya, yuk kenali apa itu mental accounting, manfaatnya dalam mengelola keuangan, serta contoh penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Apa Itu Mental Accounting?
Mental accounting adalah konsep dalam behavioral finance yang menjelaskan bagaimana seseorang secara tidak sadar membagi uang ke dalam beberapa "akun mental" berdasarkan fungsi atau tujuannya. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh ekonom pemenang Nobel, Richard H. Thaler.Sebagai contoh, seseorang mungkin memiliki "akun mental" untuk kebutuhan sehari-hari, tabungan, dana darurat, dana liburan, atau investasi. Meskipun seluruh uang tersebut tetap berasal dari sumber yang sama, keputusan penggunaannya seringkali dipengaruhi oleh kategori yang telah dibuat di dalam pikiran.
Mengapa Mental Accounting Penting?
Mental accounting dapat menjadi alat yang efektif untuk membantu mengelola keuangan apabila diterapkan dengan bijak. Dengan membagi uang berdasarkan tujuan tertentu, seseorang akan lebih mudah mengontrol pengeluaran, menjaga disiplin menabung, serta memastikan setiap kebutuhan memiliki alokasi dana yang jelas. Kebiasaan ini juga membantu dalam menyusun anggaran, mempersiapkan dana darurat, hingga merencanakan tujuan keuangan jangka panjang seperti membeli rumah, pendidikan, atau pensiun.Namun, penting untuk diingat bahwa setiap keputusan keuangan tetap perlu mempertimbangkan kondisi finansial secara keseluruhan. Jangan sampai terlalu fokus pada satu "akun mental" hingga mengabaikan kebutuhan lain yang lebih mendesak.
Contoh Mental Accounting dalam Kehidupan Sehari-hari
- Memisahkan Rekening Berdasarkan Tujuan
Seseorang memiliki rekening khusus untuk dana darurat, rekening lain untuk kebutuhan bulanan, serta rekening terpisah untuk tabungan liburan. Cara ini membantu agar dana yang sudah dialokasikan tidak tercampur dengan pengeluaran sehari-hari. - Menganggap Bonus Berbeda dengan Gaji
Sebagian orang lebih mudah menghabiskan bonus tahunan atau uang THR dibandingkan gaji bulanan. Padahal, secara nilai keduanya sama-sama merupakan pendapatan yang sebaiknya dikelola sesuai prioritas keuangan. - Menyimpan Tabungan untuk Tujuan Tertentu
Ada orang yang berkomitmen bahwa tabungan untuk membeli rumah tidak boleh digunakan untuk kebutuhan lain. Kebiasaan seperti ini dapat membantu menjaga konsistensi dalam mencapai tujuan keuangan. - Mengalokasikan Budget Hiburan
Menentukan anggaran khusus untuk makan di luar, menonton film, atau berlibur juga merupakan bentuk mental accounting. Selama anggaran tersebut disesuaikan dengan kemampuan finansial, cara ini dapat membantu menjaga pengeluaran tetap terkendali.
Mental accounting menunjukkan bahwa cara seseorang mengelola uang tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah pendapatan, tetapi juga oleh cara memandang dan mengalokasikan uang tersebut. Jika diterapkan secara bijak, kebiasaan ini dapat membantu mengatur anggaran, meningkatkan disiplin menabung, serta mempermudah pencapaian tujuan keuangan. Namun, tetap penting untuk melihat kondisi keuangan secara menyeluruh agar setiap keputusan finansial tidak hanya berdasarkan kategori tertentu, tetapi juga sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan yang dimiliki.
Sumber
Investopedia, Nobel Prize, dan The Decision Lab
