Hutan Gunung Palung, Rumah Bagi Berbagai Satwa di Kalimantan Barat
Di tengah hutan Kalimantan Barat, terdapat kawasan yang menjadi rumah bagi berbagai satwa khas Indonesia. Taman Nasional Gunung Palung di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara memiliki beragam ekosistem, mulai dari hutan mangrove dan rawa gambut hingga hutan dataran rendah dan pegunungan. Keragaman habitat tersebut mendukung kehidupan berbagai satwa liar, termasuk orangutan Kalimantan, bekantan, kelempiau, dan enggang gading yang menjadi bagian dari kekayaan hayati kawasan ini.
Taman Nasional Gunung Palung sendiri memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dengan berbagai tipe ekosistem, mulai dari hutan mangrove, rawa gambut, hutan rawa air tawar, hutan dataran rendah, hingga hutan pegunungan. Kawasan ini menjadi habitat berbagai satwa liar, termasuk sejumlah spesies yang dilindungi. Survei keanekaragaman hayati di wilayah hutan Desa Laman Satong juga mencatat 14 spesies mamalia, 158 jenis burung, serta 24 jenis amfibi dan reptil.
Keberadaan hutan dan kawasan konservasi seperti Gunung Palung membuat Laman Satong berada di tengah kekayaan alam yang tidak hanya menarik dari sisi pemandangan, tetapi juga penting bagi keberlangsungan berbagai satwa. Beberapa di antaranya bahkan merupakan satwa khas Kalimantan yang memiliki status konservasi dan membutuhkan habitat hutan yang tetap terjaga.
Orangutan Kalimantan

Salah satu satwa yang menjadi kekhasan Taman Nasional Gunung Palung adalah orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) menyebut Gunung Palung sebagai salah satu kawasan yang mendukung populasi orangutan terbesar di Kalimantan. Orangutan merupakan satwa arboreal yang menghabiskan sebagian besar waktunya di pepohonan dan sangat bergantung pada hutan sebagai tempat mencari makanan sekaligus berlindung. Dalam penelitian mengenai populasi primata di Gunung Palung dan daerah penyangganya, kepadatan orangutan tertinggi yang ditemukan mencapai 3,7 individu per kilometer persegi di Sungai Bayas, yang berada di dalam kawasan taman nasional.
Bekantan

Selain orangutan, bekantan (Nasalis larvatus) juga menjadi salah satu satwa khas yang terdapat di Gunung Palung. Primata endemik Kalimantan ini terkenal dengan hidungnya yang besar, terutama pada jantan. Habitat bekantan umumnya berkaitan erat dengan kawasan perairan seperti hutan mangrove, tepian sungai, dan rawa. Pusat Studi Satwa Primata IPB mencatat bahwa di Kalimantan Barat, bekantan dapat ditemukan di kawasan hutan bakau dalam Taman Nasional Gunung Palung. Satwa ini berstatus Endangered menurut IUCN dan tercantum dalam Appendix I CITES, sehingga keberadaannya mendapat perhatian penting dalam upaya konservasi.
Kelempiau

Hutan Gunung Palung juga menjadi habitat bagi kelempiau (Hylobates albibarbis), yang dikenal pula sebagai owa berjanggut putih Borneo. Satwa primata ini termasuk salah satu spesies prioritas yang dilindungi di Taman Nasional Gunung Palung. Kelempiau sangat bergantung pada pepohonan hutan dan memiliki peran dalam ekosistem sebagai bagian dari komunitas primata. Keberadaannya juga menunjukkan pentingnya menjaga tutupan hutan karena ketika habitatnya terganggu, ruang hidup dan sumber makanan satwa ini ikut terdampak. KSDAE bahkan mencatat kasus kelempiau yang masuk ke kebun masyarakat, menunjukkan bagaimana perubahan dan kedekatan antara habitat hutan dengan area aktivitas manusia dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya konflik.
Enggang Gading

Satwa lain yang tidak kalah menarik adalah enggang gading (Rhinoplax vigil), salah satu burung besar yang menjadi bagian dari keanekaragaman hayati Gunung Palung. Enggang gading tercatat sebagai salah satu fauna yang terdapat di taman nasional tersebut. Burung ini sangat bergantung pada hutan dan pepohonan besar, sehingga keberadaannya berkaitan erat dengan kondisi hutan yang masih baik. Selain enggang gading, survei di kawasan hutan Desa Laman Satong mencatat enam dari delapan jenis burung rangkong yang berpotensi ditemukan di wilayah tersebut. Kelompok rangkong sendiri sering digunakan sebagai salah satu indikator kesehatan hutan karena membutuhkan habitat hutan yang relatif utuh.
Mengapa Hutan Gunung Palung Penting Dilindungi?
Keempat satwa tersebut menunjukkan satu hal yang sama: habitat yang mereka butuhkan tidak bisa begitu saja digantikan. Orangutan dan kelempiau bergantung pada pepohonan hutan, bekantan membutuhkan habitat yang berkaitan dengan sungai, rawa, atau mangrove, sedangkan enggang gading membutuhkan hutan dengan pepohonan yang mendukung kehidupannya. Karena memiliki kebutuhan habitat yang spesifik, perubahan kawasan hutan dapat memberikan dampak besar terhadap populasi satwa yang hidup di dalamnya.Ancaman terhadap habitat juga bukan sekadar kemungkinan. Penelitian Pusat Studi Satwa Primata IPB terhadap 16 lokasi di Taman Nasional Gunung Palung dan sekitarnya menemukan bahwa kepadatan primata cenderung lebih tinggi di wilayah yang mendapat pengawasan hutan secara intensif dibandingkan wilayah yang tidak memiliki patroli rutin. Penelitian tersebut juga mengidentifikasi penebangan sebagai kegiatan ilegal yang paling sering ditemukan, disusul perburuan dan konversi hutan untuk pertanian. Temuan ini memperlihatkan bahwa penetapan suatu kawasan sebagai kawasan konservasi saja belum cukup; pengelolaan dan pengawasan yang konsisten juga berperan penting dalam menjaga habitat serta populasi satwa di dalamnya.
Bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih banyak kekayaan alam Indonesia, perjalanan ke berbagai destinasi dalam negeri dapat menjadi kesempatan untuk melihat langsung keberagaman lanskap dan budaya yang dimiliki setiap daerah. Persiapkan perjalanan Anda dengan lebih nyaman bersama Simas Travel Domestic dan temukan informasi selengkapnya!
Sumber
Jurnal Primatologi Indonesia, Kementerian Kehutana
