August 07, 2026

Maleo, Burung Unik Sulawesi yang Punya Cara Menetaskan Telur Tak Biasa

Indonesia merupakan rumah bagi berbagai satwa endemik yang tidak dapat ditemukan secara alami di tempat lain, salah satunya Maleo (Macrocephalon maleo). Burung yang hanya ditemukan di Pulau Sulawesi ini memiliki penampilan yang khas dengan kepala berwarna gelap dan warna kuning disekitar mata, tubuh berwarna hitam dengan gradasi cokelat, serta bagian dada dan perut berwarna putih kemerahan.

Namun, hal yang membuat Maleo menarik bukan hanya penampilannya. Burung ini memiliki cara berkembang biak yang berbeda dari unggas pada umumnya. Maleo tidak mengerami telurnya sendiri. Sebaliknya, telur dikubur di dalam tanah atau pasir yang hangat dan dibiarkan menetas dengan memanfaatkan panas dari lingkungan sekitarnya.

Maleo dan Caranya Menetaskan Telur

Saat musim bertelur tiba, Maleo betina akan mencari lokasi yang sesuai untuk membuat sarang. Lokasi tersebut biasanya berupa kawasan dengan tanah atau pasir yang mendapatkan panas dari matahari maupun panas bumi. Setelah menemukan tempat yang tepat, pasangan Maleo akan menggali lubang cukup dalam untuk meletakkan telur.

Setelah telur diletakkan dan ditutup kembali, induk Maleo tidak tinggal untuk mengeraminya. Panas dari lingkunganlah yang mengambil alih proses tersebut. Di beberapa lokasi, sumber panasnya berasal dari aktivitas geotermal, sedangkan lokasi lainnya memanfaatkan panas matahari.

Cara ini membuat Maleo tidak perlu menghabiskan energi untuk menjaga dan mengerami telur. Namun, kehidupan anak Maleo justru dimulai dengan tantangan yang cukup besar. Setelah menetas, anak Maleo harus menggali jalan keluar dari dalam tanah dan mampu mencari makan serta bertahan hidup tanpa perawatan dari induknya.

Mengapa Maleo Terancam Punah?

Keunikan Maleo sayangnya tidak membuat burung ini aman dari ancaman. Maleo saat ini berstatus Kritis (Critically Endangered) dalam Daftar Merah IUCN. Salah satu ancaman terbesar datang dari pengambilan telur oleh manusia.

Telur Maleo berukuran besar dan kaya nutrisi sehingga telah lama dimanfaatkan sebagai sumber makanan oleh masyarakat di beberapa wilayah. Pengambilan telur secara berlebihan dapat mengurangi jumlah anak Maleo yang berhasil menetas dan akhirnya memengaruhi keberlangsungan populasi. Penelitian yang dirangkum BirdLife International juga menunjukkan bahwa tingkat pengambilan telur manusia menjadi faktor yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan atau kegagalan suatu lokasi perkembangbiakan Maleo.

Selain pengambilan telur, Maleo juga menghadapi kehilangan dan kerusakan habitat. Burung ini membutuhkan hutan sebagai tempat mencari makan serta lokasi khusus untuk berkembang biak. Ketika hutan dan kawasan tempat bertelur mengalami perubahan akibat aktivitas manusia, Maleo kehilangan ruang yang dibutuhkan untuk menyelesaikan siklus hidupnya.

Maleo menunjukkan betapa uniknya keanekaragaman hayati Indonesia. Burung ini bukan hanya memiliki penampilan khas, tetapi juga mengembangkan cara berkembang biak yang sangat bergantung pada kondisi alam Sulawesi. Ketika habitat dan lokasi bertelurnya terganggu, keberlangsungan generasi berikutnya pun ikut terancam.

Melestarikan Maleo berarti menjaga hutan, kawasan perkembangbiakan, serta mengurangi pengambilan telur secara berlebihan. Dengan perlindungan yang tepat, generasi mendatang masih memiliki kesempatan untuk mengenal salah satu burung paling unik yang hanya dimiliki Indonesia ini.


Sumber
Birdlife International