Pernah Dianggap Tidak Memiliki Paru-paru, Yuk Kenalan Sama Katak Kepala Pipih Kalimantan!
Kalimantan memiliki banyak satwa unik yang tidak ditemukan di tempat lain, termasuk katak kepala pipih Kalimantan (Barbourula kalimantanensis). Katak endemik Borneo ini dikenal karena bentuk tubuhnya yang pipih dan kehidupannya yang sepenuhnya berkaitan dengan aliran sungai. Spesies ini pertama kali dideskripsikan dari wilayah Nanga Sayan, Kalimantan Barat, dan hingga kini diketahui berasal dari beberapa daerah aliran sungai di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
Katak dengan Tubuh Pipih dan Habitat yang Tidak Biasa
Berbeda dari banyak katak yang dapat ditemukan di sekitar kolam atau kawasan daratan lembap, B. kalimantanensis merupakan katak yang hidup di dalam air. Penelitian di Kalimantan Barat menemukan spesies ini pada sungai dengan air dangkal, dasar berbatu, kandungan oksigen terlarut yang tinggi, serta vegetasi di sepanjang tepian sungai. Kondisi tersebut menunjukkan betapa spesifiknya habitat yang dibutuhkan katak ini untuk bertahan hidup.

Tubuhnya yang pipih juga menjadi salah satu ciri yang membuat katak ini mudah dikenali. Bentuk tersebut berkaitan dengan kehidupannya di sungai berarus, meskipun fungsi tepat dari bentuk tubuhnya masih menjadi bagian dari karakteristik biologis yang dipelajari para peneliti. Spesies ini juga dikenal cukup sulit ditemukan. Survei di beberapa lokasi bahkan hanya menemukan beberapa individu, sehingga penelitian mengenai persebaran dan ekologinya masih terus diperlukan.
Benarkah Katak Ini Tidak Memiliki Paru-Paru?
Inilah bagian yang membuat Barbourula kalimantanensis begitu terkenal. Pada 2008, penelitian yang diterbitkan dalam Current Biology melaporkan bahwa katak ini merupakan satu-satunya katak yang diketahui tidak memiliki paru-paru. Temuan tersebut menjadi sangat menarik karena kehilangan paru-paru secara keseluruhan merupakan karakteristik yang sangat jarang pada hewan bertulang belakang.
Namun, penelitian tersebut kemudian terbukti tidak akurat. Pada 2024, David Blackburn, Jaimi Gray, dan Edward Stanley menggunakan pemindaian mikro-CT beresolusi tinggi dan menemukan bahwa B. kalimantanensis memiliki trakea, glotis, dan sepasang paru-paru yang sangat kecil serta tereduksi. Temuan ini menyebabkan artikel tahun 2008 ditarik oleh penerbit Current Biology. Dengan demikian, istilah “katak tanpa paru-paru” lebih tepat dipahami sebagai sebutan historis yang muncul dari penelitian sebelumnya, bukan sebagai kondisi anatomi yang masih diterima berdasarkan bukti terbaru.
Mengapa Paru-parunya Sangat Kecil?
Walaupun ternyata tidak benar-benar kehilangan paru-paru, B. kalimantanensis tetap memiliki sistem pernapasan yang sangat tidak biasa. Paru-parunya jauh lebih kecil dibandingkan katak pada umumnya. Para peneliti menduga kondisi tersebut berkaitan dengan lingkungan hidupnya di sungai hutan yang dingin dan berarus deras. Dalam lingkungan seperti ini, bentuk tubuh yang pipih dan paru-paru yang tereduksi kemungkinan merupakan bagian dari adaptasi evolusioner spesies tersebut terhadap kehidupan akuatik.
Kondisi air juga menjadi sangat penting. Penelitian di Kalimantan Barat menemukan B. kalimantanensis pada habitat dengan kandungan oksigen terlarut yang tinggi. Air yang mengalir deras membantu mempertahankan kondisi tersebut, sekaligus membuat habitatnya berbeda dari perairan yang lebih tenang. Karena itu, perubahan kualitas air dapat menjadi masalah serius bagi keberlangsungan spesies ini.
Terancam karena Habitatnya Sangat Spesifik
Penelitian mengenai status konservasinya sebelumnya menyoroti keterbatasan habitat dan kehilangan habitat yang parah sebagai alasan utama perlunya perlindungan. Studi tersebut juga mencatat ancaman dari aktivitas seperti pertambangan emas ilegal. Di salah satu lokasi yang merupakan habitat asalnya, penambangan emas telah menyebabkan sungai yang sebelumnya dingin, jernih, dan berarus deras berubah menjadi lebih hangat dan keruh.
Penelitian yang lebih baru di Kalimantan Barat juga menunjukkan bahwa katak ini ditemukan dalam jumlah yang sangat sedikit selama survei. Dalam penelitian di dua sub-DAS Melawi, peneliti menemukan tiga individu di Sungai Mentatai dan satu individu di Sungai Ella. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun persebarannya mungkin lebih luas daripada yang diperkirakan sebelumnya, satwa ini tetap sulit ditemukan dan membutuhkan habitat sungai yang sesuai.
Katak kepala pipih Kalimantan menjadi salah satu contoh bagaimana kekayaan alam Indonesia masih menyimpan banyak hal yang belum sepenuhnya dipahami. Spesies ini pernah dianggap sebagai satu-satunya katak tanpa paru-paru di dunia, sebelum teknologi penelitian yang lebih maju menunjukkan bahwa sebenarnya ia memiliki paru-paru yang sangat kecil. Penemuan tersebut bukan hanya mengubah pemahaman ilmiah tentang spesies ini, tetapi juga menunjukkan betapa banyak hal yang masih dapat dipelajari dari satwa liar Indonesia.
Sumber
Journal of The Threatened Taxa
